Pada masa penjajahan, para pejuang kemerdekaan begitu gagah berani melawan tentara penjajah hanya dengan bersenjatakan bambu runcing.

Perlawanan ini sejatinya tidak seimbang karena tentara penjajah menggunakan senjata api, tapi ternyata bambu runcing mampu memicu bara semangat para pejuang maju ke medan perang.  Tidak mengherankan jika bambu runcing menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan.

Kini, di hampir semua taman makam pahlawan terdapat tugu bambu runcing atau patung pejuang dengan bambu runcingnya.  Beberapa daerah bahkan memberi nama Taman Makam Pahlawan Bambu Runcing.

Sebagai sebuah simbol perjuangan, peran bambu nampaknya hanya dimuseumkan dalam bentuk tugu di taman makam pahlawan sementara perannya dalam kehidupan sehari-hari perlahan dikucilkan.  Hal ini terlihat dari terjadinya pembiaran terhadap pembabatan hutan bambu secara masif di pelbagai daerah di Indonesia.  Elizabeth (peneliti bambu dari LIPI) bahkan memperkirakan bahwa orang Indonesia tidak akan melihat lagi pohon bambu sekitar 15-20 tahun ke depan akibat penebangan bambu secara besar-besaran tanpa disertai budidaya.

From Cradle to grave

Bagi masyarakat Nusantara, bambu merupakan keanekaragaman hayati (Kehati) yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-sehari, sejak lahir hingga meninggal dunia.  Saat baru lahir, masyarakat tradisional menggunakan bambu yang ditajamkan untuk memotong tali pusar bayi dan diupacarakan dengan memanfaatkan material bambu.  Memasuki fase berikutnya, anak menggunakan alat bantu yang terbuat dari bambu untuk belajar berjalan.

Permainan anak-anak banyak menggunakan bambu, seperti layangan, baling-baling, peluit, egrang, gasing, dan sebagainya.  Beberapa alat kesenian tradisional juga menggunakan bambu seperti angklung, seruling, calung (Jawa Barat), saluang (Minangkabau), Taktok Trieng (Aceh), gamolan (Lampung), Rindik (Bali), sasando (Nusa Tenggara), pa’pompang (Toraja), dan lain-lain.

Bambu juga banyak digunakan untuk kegiatan ekonomi masyarakat, seperti bubu untuk menangkap ikan, kurungan ayam, rakit, jembatan, batang pikulan untuk mengangkut padi atau hewan ternak, dan pembuatan berbagai peralatan rumah tangga seperti besek (anyaman bambu), pagar rumah, konstruksi rumah, furniture, dan sebagainya.

Pada saat ada warga yang meninggal dunia, jenasah dibawa ke kuburan dengan menggunakan keranda yang terbuat dari bambu.  Di Bali, upacara pembakaran jenazah (ngaben) memerlukan banyak bambu.  Demikian juga di Toraja, bambu digunakan untuk mengangkat jenazah ke liang batu pada sebuah tebing yang tinggi.

Dengan gambaran tersebut, tidak berlebihan jika Jatnika (tokoh pelestari bambu) menyatakan bahwa ’bambu adalah Identitas bangsa Indonesia’.

Revitalisasi Bambu

Pada era disruption, suatu hal yang lumrah ketika sebagian fungsi bambu mulai menghilang tapi perlu diingat bahwa pada saat yang bersamaan fungsi baru juga bermunculan. Salah satu fungsi bambu yang menghilang adalah penggunaannya untuk memotong tali pusar bayi.  Dokter dan bidan tentu tidak lagi menggunakan bambu tajam untuk memotong tali pusar bayi melainkan menggunakan alat potong medis yang higienis. Hal yang sama terjadi untuk permainan berbahan bambu dimana anak-anak jaman now lebih memilih gadget atau game online ketimbang permainan tradisional dari bambu.  Selain itu, masyarakat juga lebih senang menggunakan styrofoam daripada besek meskipun diketahui bahwa styroam butuh waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami.

Di sisi lain, ilmu pengetahuan modern mulai memahami jasa lingkungan yang dihasilkan oleh bambu seperti menjaga sistem hidrologis alam, penyerap karbon yang efektif, tempat wisata, habitat berbagai spesies, dan sebagainya. Dalam konteks ekonomi, saat ini disadari bahwa furniture dan aneka kerajinan bambu memiliki harga premium untuk pangsa pasar khusus. Bambu juga banyak dibutuhkan untuk pembuatan sumpit, tusuk gigi, tusuk sate, dan bahkan berpotensi untuk dijadikan biofuel.

Karena itu diperlukan terobosan baru dari pemerintah untuk merevitalisasi peran bambu melalui kombinasi dua kebijakan, yaitu kebijakan sisi permintaan (demand side policies) dan kebijakan sisi penawaran (supply side policies).

Kebijakan sisi permintaan bisa dalam bentuk kampanye penggunaan material berbasis bambu, pameran produk unggulan bambu, dan pelarangan bertahap penggunaan material yang sulit terdegradasi serta menggantinya dengan material bambu. Masyarakat sebagai konsumen perlu mendapat edukasi dan pencerahan tentang nilai tambah produk-produk berbasis bambu.  Penggunaan besek sebagai pengganti styrofoam, misalnya, perlu dikampanyekan secara kreatif dan kontinyu agar secara perlahan terjadi perubahan perilaku dalam masyarakat.

Sementara kebijakan dari sisi penawaran bisa dalam bentuk penanaman bambu secara masif di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) dan akselerasi program 1.000 desa bambu yang dicanangkan pemerintah.  Bentuk lain dari kebijakan sisi penawaran adalah peningkatan kapasitas pengelolaan bambu, baik dalam proses budidaya maupun pemanfaatannya agar menghasilkan produk-produk kreatif bernilai tambah yang mampu diserap pasar.

Kombinasi dari dua kebijakan ini diyakini mampu menyelesaikan persoalan multi-dimensi yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, yaitu kemiskinan, kesenjangan ekonomi, kerusakan lingkungan, dan sampah.  China adalah salah satu negara yang berhasil melakukan program konservasi bambu dengan tujuan utama untuk menyediakan makanan dan habitat hewan panda yang terancam punah.  Program konservasi yang dilakukan China sukses menjaga habitat panda sehingga populasinya mengalami peningkatan dan status panda tidak lagi berada pada zona terancam punah versi IUCN.  Dampak lain dari keberhasilan program konservasi ini adalah munculnya kawasan ekowisata berbasis bambu yang diminati oleh wisatawan dari berbagai negara.

Jika China bisa, Indonesia juga pasti bisa.  Beberapa daerah bahkan telah membuktikannya. Dengan demikian, bambu (runcing) tidak hanya digunakan oleh para pahlawan melawan penjajah di masa lalu, tapi juga dapat dioptimalkan untuk berperang melawan persoalan kekinian: ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Share and Enjoy !

0Shares
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *