Lobster memang selalu menarik perhatian.  Saat Menteri Susi melarang ekspor benih lobster, publik heboh. Pun saat menteri Edy membolehkan ekspor benih lobster, publik juga heboh.  Makin heboh saat bu Susi protes dengan kebijakan ini. Padahal Menteri Edy mengeluarkan Permen di masa pandemi Covid-19. Dan mengambil jalan tengah: boleh ekspor benih lobster tapi syarat dan ketentuan berlaku.

Lobster memang kontroversial.  Bukan hanya di Indonesia.

Menurut Townsend (2011), Inggris dan Prancis pernah bertengkar gegara lobster. Kejadiannya tahun 1800an.  Perdebatannya berpusat pada definisi lobster: apakah lobster ikan?  Jika lobster adalah ikan, maka lobster termasuk dalam perjanjian antara Inggris dan Prancis tentang hak penangkapan ikan di sekitar perairan Newfoundland.  Artinya, Prancis berhak menangkap lobster di perairan tersebut.  Jika bukan, terjadi sebaliknya.

Lobster juga pernah memicu konflik antara Prancis dengan Brazil, tahun 1960an.  Kedua negara berseteru terkait wilayah tangkapan lobster di kontinental shelf Brazil.  Mereka sama-sama mengacu pada Konvensi Genewa.  Saat itu memang belum ada UNCLOS. Masalahnya, Konvensi Genewa tidak secara eksplisit mendefinisikan ikan.  Pertanyaannya sama dengan kasus di Newfoundland: apakah lobster ikan?  Konflik ini dikenal dengan ‘perang lobster’ karena Prancis sempat mengirim kapal perang dan kedua negara menarik duta besarnya.

Kontroversi-kontroversi ini menunjukan bahwa lobster adalah komoditas penting dunia.  Bahkan sejak berabad-abad yang lampau.

Gambar lobster, misalnya, menghiasi kuil Mesir kuno yang didirikan sekitar abad ke-15 SM.  Lobster juga muncul di lantai mosaik kerajaan Romawi kuno.  Ini menggambarkan bahwa lobster adalah makanan para raja dan bangsawan sejak dulu kala.

Tapi derajat lobster sempat jatuh sekitar abad ke-17.  Pada masa itu, di Benua Amerika, lobster hanya dijadikan makanan ternak, umpan ikan, dan pupuk.  Lobster juga dijuluki makanan orang miskin karena disajikan hanya untuk budak dan tahanan penjara.  Orang malu makan lobster saat itu.

Lobster kembali naik kelas di Amerika pada abad ke-19.  Saat itu orang-orang kaya dari kota besar seperti Boston, New York, dan Philadelphia banyak yang berwisata ke Maine. Orang-orang kaya dari kota besar ini ternyata sangat menyukai lobster.  Warga Maine tentu heran karena lobster bagi mereka adalah makanan sampah. Maine sendiri terkenal memiliki lobster yang berlimpah.

Restoran mewah di kota-kota besar di Amerika kemudian menyajikan menu lobster.  Sambil membawa sensasi makan lobster di pantai Maine.  Sejak saat itu, lobster menjadi makanan mewah yang harganya selangit.  Kharisma lobster segera tersebar ke kota-kota besar lainnya di Eropa, Jepang, China, dan lain-lain.

Penangkapan lobster pun semakin gencar.  Teknologi penangkapan lobster berkembang pesat, dari alat tangkap yang sederhana menjadi menjadi alat tangkap yang lebih efisien dan bisa menangkap lobster lebih banyak.

Nelayan pada umumnya menangkap lobster menggunakan perangkap dasar (trap).  Di dalam perangkap tersebut diikat umpan untuk menarik lobster masuk. 

Umpan yang digunakan biasanya ikan, meskipun di habitat aslinya lobster juga makan kerang, tiram dan kepiting.  Kadang, jika kepepet, lobster memakan lobster lainnya.  Kanibal!

Lobster bercapit makan dengan cara menarik, merobek, dan menghancurkan makanannya hingga pas dengan ukuran mulutnya.  Tidak dengan melahap sekaligus seperti ikan lainnya.

Lobster bercapit banyak terdapat di perairan yang lebih dingin, seperti Laut Atlantik Utara.  Spesies utamanya adalah lobster Eropa (Homarus gammarus) dan lobster Amerika (Homarus americanus).  Lobster Amerika banyak terdapat di Teluk Maine yang mensuplai perikanan lobster Amerika dan Kanada.  Berdasarkan catatan Guinness World Records, lobster terbesar pernah ditemukan di teluk ini dengan berat 20 kg.

Sementara lobster yang tidak bercapit banyak ditemukan di perairan yang lebih hangat seperti Asia dan Australia, termasuk Indonesia.  Lobster ini dikenal dengan lobster berduri, lobster batu, atau udang karang (Panulirus sp).

Jenis lobster yang banyak ditemukan di perairan Indonesia adalah lobster mutiara, lobster pasir, lobster batu, dan lobster bambu.  Tapi yang terkenal paling mahal adalah lobster mutiara (Panulirus ornatus).

Mencegah Kepunahan

Bisnis lobster adalah bisnis triyunan rupiah.  Sangat menggiurkan.  Jika tidak diatur, lobster akan punah dalam waktu singkat.  Akan terjadi race to fish dimana orang berlomba-lomba menangkap lobster sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya.  Sebelum orang lain melakukannya. Akan terjadi tragedy of the common.

Karena itu beberapa negara mengatur secara ketat penangkapan lobster.  Konon, Kanada adalah negara pertama yang mengatur penangkapan lobster.  Disusul Amerika.  Kedua Negara ini, sejak tahun 1870an, melarang menangkap lobster betina yang sedang bertelur.  Dan menetapkan ukuran minimum yang boleh ditangkap.   

Tapi para akademisi menganggap ukuran minimum yang diterapkan masih terlalu kecil.  Mereka menuntut ukuran yang lebih besar untuk memberi kesempatan lobster mencapai kematangan seksual dan berkembangbiak.

Perangkap lobster pun diatur sedemikian hingga hanya lobster besar yang akan tertangkap.  Lobster kecil yang masuk perangkap masih bisa keluar.  Kalaupun tertangkap, harus dikembalikan ke laut.

Bagi yang melanggar, pasti kena hukum.  Di Kanada, ada yang pernah kena denda sebesar $2.500 karena kedapatan melanggar aturan.  Aturan memang harus ditegakkan.  Agar ada efek jera.  Kalau tidak, hanya akan jadi macan kertas.

Begitulah cara yang dilakukan Kanada & Amerika sejak 150 tahun lalu untuk menghindari terjadinya tangkap lebih lobster.  Dan menghindari kepunahan lobster.

Bagaimana dengan aturan main di Indonesia?  Silahkan baca sendiri Permen 12/2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus Spp.), Kepiting (Scylla Spp.), dan Rajungan (Portunus Spp.) di Wilayah Negara Republik Indonesia.

Share and Enjoy !

0Shares
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *