Bentuk pendanaan yang secara umum dikenal untuk membiayai kegiatan konservasi adalah endowment fund, sinking fund, dan revolving fund

Ketiga bentuk pendanaan tersebut secara umum dikenal dengan sebutan trust fund. Menurut Compact (2013) trust fund adalah pemberian asset finansial (properti, uang, atau sekuritas) oleh orang atau lembaga (trustor/donor/grantor) yang dititipkan atau diserahkan untuk dikelola dengan baik sebuah lembaga (trustee). Aset finansial tersebut kemudian disalurkan atau dimanfaatkan untuk kepentingan penerima manfaat (beneficiaries) sesuai dengan maksud dan tujuan yang dimandatkan.

Selain sebagai bentuk pendanaan,  istilah trust fund juga merujuk pada lembaga pengelola dana seperti definisi yang dikembangkan oleh Spergel dan Taieb (2008) yang menyebutkan bahwa trust fund merupakan lembaga grant-making independen yang secara legal menyediakan pendanaan berkelanjutan bagi kegiatan konservasi keanekaragaman hayati dan kegiatan lain yang terkait dengan pembangunan berkelanjutan.

Trust fund digambarkan sebagai jembatan yang menghubungkan antara donor dan organisasi pelaksana.  Dalam hal mekanisme kerja, trust fund umumnya tidak melakukan langsung kegiatan konservasi, melainkan memobilisasi dan menginvestasikan dana-dana dari berbagai sektor untuk kemudian diterushibahkan kepada stakeholder yang kompeten dan berkepentingan.

Di beberapa negara, trust fund didirikan dalam bentuk trust yaitu pengaturan legal dimana trustee (individu, grup, perusahaan, atau organisasi) secara legal memiliki dan mengelola sumberdaya keuangan atau properti yang telah dihibahkan untuk tujuan tertentu sebagaimana tercantum dalam piagam resmi (charter) atau akta pendirian trust.  Di Negara-negara dimana tidak ada dasar hukum untuk mendirikan trust, yayasan atau asosiasi lembaga sipil sering digunakan untuk tujuan yang sama.  Sementara negara lainnya mengeluarkan regulasi khusus agar sebuah trust bisa berdiri dan beroperasi.  Dalam banyak kasus, trust didirikan di luar negeri karena masih lemahnya dasar hukum di negara asal.

Perlu digarisbawahi bahwa trust fund lebih dari sekedar mekanisme keuangan, melainkan juga memiliki fungsi lainnya seperti:

  • Forum penting dimana berbagai stakeholder seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM, sektor swasta, dan donor internasional bersama-sama secara reguler mendiskusikan dan menyelesaikan isu-isu penting konservasi.
  • Agen kunci dalam pengembangan strategi dan kebijakan konservasi
  • Sumber kepakaran yang bisa bekerja dengan instansi pemerintah dan swasta dalam mengembangakan pendekatan pengelolaan yang efektif.
  • Pembangun kapasitas bagi LSM baru yang terlibat dalam kegiatan konservasi.

Daya tarik utama bagi donor internasional adalah kemampuan trust fund dalam mengelola dan mengalokasikan dana donor untuk periode waktu yang panjang.  Trust fund umumnya dibentuk melalui proses konsultasi yang cukup lama dan dikelola oleh kombinasi antara perwakilan pemerintah dan sektor swasta.

Trust fund dirancang untuk memiliki prosedur operasional yang kredibel dan transparan, akuntabel, dan mempraktekkan pengelolaan keuangan yang sehat.  Karena itu trust fund mampu menarik donor baru untuk kasus dimana mereka tidak memungkinkan untuk menyalurkan dana melalui pemerintah.  Sebagai tambahan, aset-aset trust fund hampir selalu dikelola dan diinvestasikan oleh lembaga keuangan tersendiri, baik di dalam maupun di luar negeri.

Evaluasi terhadap trust fund di beberapa negara yang dilakukan oleh Global Environment Facility (GEF) menunjukan bahwa trust fund telah menunjukan hasil yang mengesankan dalam beberapa bidang, yaitu a) mendukung kawasan konservasi, termasuk menciptakan kawasan konservasi baru, memperluas kawasan konservasi yang sudah ada, dan menyediakan sumber daya bagi operasional kawasan konservasi; b) memperoleh dan mengelola sumber daya keuangan; c) meningkatkan partisipasi lembaga masyarakat sipil dalam kegiatan konservasi; d) meningkatkan kegiatan penelitian dengan fokus pada isu-isu konservasi; dan e) meningkatkan kesadaran masyarakat.

Hal yang masih belum jelas menurut evaluasi GEF ini adalah kemampuan trust fund dalam menunjukan dampak konservasi jangka panjang.  Hal ini salah satunya disebabkan oleh kesulitan dalam mengukur dampak konservasi dan menterkaitkan dampak konservasi terhadap intervensi trust fund, khususnya untuk jangka pendek.  Kesulitan mengukur dampak konservasi juga karena trust fund menghasilkan jumlah dana yang relatif kecil dibandingkan dengan kebutuhan konservasi.

Trust fund dikelola oleh semacam governing body, kadang juga disebut board of directors, governing council, atau oversight committee, tergantung kerangka hukum negara bersangkutan.  Governing body ini bisa semuanya dari sektor swasta atau sebagian dari sektor swasta dan sebagian lagi perwakilan pemerintah, namun sangat jarang perwakilan pemerintah sebagai mayoritas.  Peran governing body adalah mengelola dana, terutama membuat keputusan akhir dalam hal mobilisasi dana, investasi, dan penyaluran dana.

Governing body dibantu oleh fund administrator yang bertugas mengadministrasikan pemanfaatan dana dari hari ke hari, termasuk pendistribusian dana untuk kegiatan konservasi kepada mitra kerja (grantee). 

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bentuk pendanaan trust fund terdiri dari endowment fund, sinking fund, dan revolving fundEndowment fund atau dana abadi pada dasarnya adalah sejumlah dana yang dimaksudkan untuk tetap ada secara permanen dimana modal pokok (principal) diinvestasikan untuk jangka panjang dan hanya hasil investasi yang digunakan untuk membiayai kegiatan.  Dengan kata lain, hanya hasil investasi yang digunakan untuk membiayai kegiatan sementara modal awal dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Beberapa pengelola endowment fund menginvestasikan kembali sebagian kecil hasil investasinya untuk melindungi nilai dana dari inflasi.

Pada kondisi tertentu dimana dana belum terlalu dibutuhkan untuk membiayai kegiatan, pengelola endowment fund memutuskan untuk menginvestasikan kembali sebagian besar dari hasil investasi dengan tujuan untuk meningkatkan nilai endowment fund agar mampu memperoleh hasil investasi yang lebih besar dalam beberapa tahun kedepan.

Beberapa pakar meyakini bahwa biaya pengelolaan endowment fund tidak akan efektif jika modal awal yang diinvestasikan kurang dari US$5 juta sebab hasil investasi tahunan akan lebih banyak digunakan untuk biaya administrasi dan biaya transaksi ketimbang untuk kegiatan proyek.

Sinking fund didefinisikan sebagai dana yang digunakan untuk membiayai kegiatan dalam periode waktu tertentu dimana modal awal dan hasil investasinya terus digunakan hingga terserap habis (Mathias dan Victurine, 2014).  Sinking fund dipergunakan untuk membiayai proyek dalam periode tertentu dimana hasil dari proyek tersebut dapat dilihat hasilnya dalam jangka pendek.  Meskipun dirancang untuk diserap habis, sinking fund juga mendapatkan hasil investasi setidaknya berupa bunga tabungan di bank, meskipun tidak sebesar hasil investasi endowment fund.

Beberapa pengelola sinking fund menegosiasiakan dengan lembaga donor agar hasil investasi tersebut tidak digunakan untuk membiayai kegiatan proyek melainkan untuk menambah modal endowment fund.

Sementara revolving fund atau dana bergulir memiliki setidaknya dua konteks pengertian.  Beberapa kalangan menempatkan revolving fund sebagai pinjaman modal usaha dimana pengembalian dana pinjaman beserta pendapatannya kembali digulirkan kepada peminjam berikutnya, sehingga disebut dana bergulir.  Pada konteks lain, revolving fund didefinisikan sebagai dana yang secara periodik masuk ke kas pengelola melalui pembayaran (fee), pajak, retribusi, atau sumbangan donor.

Berdasarkan ketiga bentuk pendanaan tersebut diatas, pengelolaan endowment fund dianggap paling kompleks dibandingkan sinking fund dan revolving fund.  Karena itu uraian berikut akan mengupas lebih detail tentang endowment fund.

Menurut Gonzales (2004), endowment fund atau dana abadi adalah sebuah kumpulan dana yang dikelola oleh sebuah lembaga untuk tujuan-tujuan sosial yang ditetapkan oleh penyumbang dana (donor) dan pengurus lembaga. Sementara Winder (2000) mengartikan dana abadi sebagai asset permanen, dalam bentuk uang, sekuritas, atau properti yang diinvestasikan untuk memperoleh pendapatan (income) yang selanjutnya digunakan untuk mendukung kegiatan organisasi.

Dana atau aset awal tersebut diharapkan tetap utuh selamanya, untuk periode waktu tertentu, atau sampai terkumpulnya aset yang memadai untuk melaksanakan program yang sudah ditetapkan. Daya beli dana abadi diharapkan menjadi semakin besar dari waktu ke waktu, dan dapat memberikan pendapatan teratur sepanjang hidup lembaga.

Konsep dana abadi sudah sangat dikenal di kalangan eksekutif yayasan di Amerika Serikat, Kanada, dan sebagian Eropa, dan makin banyak pimpinan masyarakat sipil di Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang saat ini mendapatkan pengalaman langsung dalam menggalang, mengelola, dan mengembangkan dana abadi seperti itu.

Dalam banyak kasus, dana abadi dirasakan membawa keuntungan yang besar bagi lembaga karena menyediakan basis pendapatan yang aman, yang sebagian dapat mengurangi tekanan untuk mencari modal pokok, mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber pendanaan tertentu, dan memudahkan perencanaan keuangan jangka panjang. Secara kelembagaan, dana abadi dapat memperkuat institusi dan semua pihak yang berkepentingan, meningkatkan konsentrasi untuk  mencapai tujuan-tujuan program jangka panjang, dan menjaga fleksibilitas program  guna mencapai tujuan-tujuan lembaga (Gaberman, 2001).

Bagi lembaga donor penggunaan dana abadi sebagai kendaraan pendanan (funding vehicle) juga memiliki keuntungan, seperti yang diidentifikasi oleh Horkan dan Jordan (1996) berikut ini:

  • Menyediakan sumber pendanaan yang aman. Dana abadi kadang digunakan untuk menjamin pengamanan sumber dana bagi sebuah organisasi, untuk membantu menuju keuangan berkelanjutan.  Dana abadi bisa juga digunakan untuk mengisolasi dana dari fluktuasi anggaran pemerintah dan lembaga donor.
  • Mendukung pengembangan kapasitas lok Memberikan dana abadi kepada LSM lokal dapat membantu  mengembangkan pengelolaan keuangan, programatik (pemberian hibah), dan kapasitas pencarian dana (fund-raising).
  • Mengembangkan dukungan sektoral. Dana abadi dapat memperluas basis pendanaan untuk kegiatan pada sektor tertentu dan paling sering digunakan dalam sektor lingkungan sebab komitmen jangka panjang diperlukan untuk kemajuan pengelolaan lingkungan.
  • Pengembangan masyarakat madani (civil society). Pembentukan lembaga dana abadi dapat mendorong partisipasi lokal dalam pembangunan dan memperluas lembaga masayarakat madani.  Dalam beberapa kasus, kelompok yang berbeda bergabung untuk tujuan bersama.  Dewan Direktur (governing body) dari banyak lembaga dana abadi seringkali terdiri dari mayoritas LSM atau pemimpin masyarakat.
  • Mendorong filantropi lokal. Di banyak negara, masih belum berkembang tradisi filantropi, sehingga pengembangan dana abadi oleh donor luar negeri diharapkan dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya filantropi.
  • Leveraging sumber pendanaan Beberapa dana abadi dari lembaga donor luar negeri, seperti USAID, dirancang untuk safeguards yang memudahkan organisasi untuk menarik dana dari sumber lain.
  • Dana abadi sebagai warisan (legacy) bagi lembaga donor. Pendirian dana abadi adalah salah cara untuk melanjutkan dukungan bagi kegiatan pembangunan lokal setelah lembaga donor menutup proyeknya.

Ada beberapa  sumber pendanaan untuk mengembangkan dana abadi, baik di level lokal maupun leval internasional.  Di level lokal, potensi untuk memperoleh dana abadi bisa diperoleh dari pemerintah atau sumber publik lainnya, sektor swasta, individu kaya raya, biaya keanggotaan (membership fees), dan hasil pendapatan (earned income).  Sementara di level internasional, dana abadi bisa berasal dari lembaga bilateral/multilateral untuk asistensi pembangunan luar negeri, yayasan internasional di negara maju, LSM dari negara maju, korporasi multinasional, dan individu kaya raya.

Dana awal dalam pembentukan dana abadi biasanya berasal dari sumber-sumber luar. Donor bilateral, yayasan swasta, korporasi, orang kaya, dan masyarakat umum dapat menyumbang untuk pembentukan dana abadi (Winder, 2000). Lembaga ODA (Official Development Assistence) memperoleh perhatian lebih tinggi dengan menyumbang untuk dana abadi daripada untuk sebuah proyek jangka pendek tertentu.

Dengan demikian, donor tidak hanya menjadi bagian dari sejarah pembentukan dana abadi tapi mereka juga memberikan sumbangan terhadap setiap proyek yang didukung dana abadi tersebut. Sumber-sumber luar ini sering ditekankan dalam berbagai kepustakaan mengenai dana abadi, tetapi sebenarnya tabungan yang dikumpulkan sendiri dan pengembalian dana pinjaman yang diberikan kepada masyarakat, mungkin juga bisa menjadi modal awal dana abadi.

Bagi lembaga yang melakukan investasi dan memberikan pinjaman, terutama melalui program keuangan mikro, pengembalian dana pinjaman ini bisa menjadi sangat penting. Di bawah ini adalah sebuah diagram sederhana arus dana pada sebuah lembaga yang memiliki dana abadi (Gonzales, 2004):

Gambar 2. Diagram arus dana lembaga dana abadi

Horkan dan Jordan (1996) mengidentifikasi beberapa isu umum terkait dengan pembentukan lembaga dana abadi di beberapa negara, yaitu:

  • Pembentukan dana abadi membutuhkan waktu yang cukup lama dan upaya keras. Beberapa contoh adalah untuk mengatasi isu legal tentang kesepakatan dana abadi dan rancangan struktur pengelolaan.
  • Diperlukan inisiasi keuangan yang cukup. Dana abadi harus cukup besar memperoleh hasil (earnings) guna menangani biaya operasi dan kegiatan program.  Dengan adanya hibah awal yang besar dapat menyediakan arus pemasukan yang cukup, mengurangi biaya administrasi, dan menjamin keberlanjutan program.  Perhatian utama bagi lembaga donor adalah berapa jumlah dana yang diperlukan untuk dana abadi.
  • Matching Fund seringkali dipersyaratkan. Karena kebutuhan dana abadi yang cukup besar, beberapa lembaga donor sengaja merancang dana abadi melalui leverage dari sumber pendanaan lainnya.
  • Kemandirian organisasi sangat penting. Mendirikan lembaga dana abadi memerlukan organisasi menjadi financially self-sustainable untuk menjamin agar tidak tergantung pada dukungan pemerintah atau kepentingan sekuler.  Selain itu, penting juga mengisolasi dana abadi dari arus dan pergantian panggung politik nasional.
  • Diperlukan kelembagaan yang kuat. Terdapat persepsi yang jelas bahwa organisasi yang kuat dan terkelola dengan baik merupakan syarat penting dalam pemberian dana abadi oleh donor.
  • Diperlukan Dewan Direksi (governing body) yang memiliki komitmen dan kompeten. Dewan direksi yang kuat diperlukan agar dana abadi dapat dikelola secara efektif dan menjamin keberhasilan kegiatan-kegiatan program organisasi.  Anggota dewan direksi harus komit terhadap tujuan organisasi, mendukung masyarakat dan pembangunan internasional, dan memahami tanggungjawabnya sebagai dewan direksi.
  • Pemisahan tanggungjawab program dan keuangan. Ini merupakan salah satu cara untuk menjamin akuntabilitas  terhadap keputusan keuangan program (grant-making).  Di beberapa kasus, dewan direktur dibangun khusus semata-mata untuk mengelola dana abadi.  Organisasi lainnya memiliki kelompok kecil anggota dewan direksi menangani sub-komite investasi.

Perlu digarisbawahi juga bahwa dana abadi bukanlah sebuah obat mujarab bagi segala masalah keuangan lembaga. Namun dana abadi dapat menjadi aset yang mendukung dan memberdayakan untuk pembangunan sosial. Dana abadi mempunyai makna lebih jauh dari sekedar keberlanjutan finansial. Itu sebabnya dana abadi tidak dapat digalang dan dibentuk hanya melalui sarana finansial. Konstituen sosial, usaha, waktu, negoisasi, serta komitmen bantuan dan politik diperlukan untuk menggalang dana abadi.

Pada akhirnya, dana abadi tidak akan dinilai dalam pengertian proyek atau finansial semata, tetapi dalam arti dampak mereka terhadap kemiskinan, kesehatan dan lingkungan masyarakat, dan terhadap pembangunan pada umumnya (Gonzales, 2004).

Salah satu lembaga pengelola dana abadi di Indonesia yang cukup terkenal adalah Yayasan Keanekaragaman Hayati atau Yayasan KEHATI.  Melalui Cooperative Agreement dengan USAID, KEHATI menerima $16,5 juta dana abadi untuk mendukung grant-making dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.  USAID juga berjanji memberikan tambahan dana sebesar $2,5 juta untuk menangani biaya operasional untuk 5 tahun pertama (1995-2000) dan asistensi teknis atau konsultasi yang diperlukan untuk membantu operasional yang efektif.  Dengan demikian total hibah yang diterima sebesar $19 juta untuk kurun waktu 10 tahun (1995-2005).  Kesepakatn ini juga menetapkan bahwa KEHATI harus menyiapkan tambahan dana sebesar $6,5 juta dari sumber sendiri.  Dari jumlah tersebut, $4,7 juta harus dikontribusikan untuk dana abadi dan sisanya sebesar $1,8 juta digunakan untuk biaya operasional dan program.

Setelah perjanjian dengan USAID berakhir tahun 2005, Yayasan KEHATI tetap dipercaya untuk sepenuhnya mengelola dana hibah tersebut sebagai dana abadi yayasan secara mandiri, guna mendukung sumber daya dan memfasilitasi kegiatan berbagai organisasi masyarakat sipil di Indonesia, seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM), kelompok-kelompok masyarakat adat dan lokal, asosiasi profesi, lembaga-lembaga penelitian, pendidikan, kebudayaan, dan komponen masyarakat lainnya.

Laporan keuangan KEHATI tahun 2012 menunjukan bahwa total aset yang dimiliki sebesar Rp 198 milyar meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 166 milyar.  Sementara dari sisi pendapatan (revenue), KEHATI membukukan Rp 105 milyar yang juga mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar Rp 40 milyar.  Hal ini menunjukan bahwa KEHATI berhasil mengelola dana abadi yang awalnya diperoleh dari donor USAID tahun 1995 hingga saat ini.

Selain KEHATI, terdapat lembaga lain yang mengelola dana abadi di Indonesia dengan jumlah dana bervariasi antara Rp 300 juta hingga Rp 190 miliar dengan nilai investasi antara 2 – 88%.  Winder (2000) merangkum lembaga-lembaga pengelola dana abadi tersebut antara lain adalah Forum Kerjasama Pengembangan Koperasi (FORMASI), Yayasan Sintesa, Yayasan Satunama, Sekretariat Bina Desa (SBD), Yayasan Indonesia Sejahtera (YIS), Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), dan Dana Mitra Lingkungan (DML).

***

Cuplikan buku: Pendanaan Berkelanjutan bagi Kawasan Konservasi Laut

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/7723/pendanaan-berkelanjutan-bagi-kawasan-konservasi-laut

Share and Enjoy !

0Shares
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *