Pandemi Covid-19 mencuatkan pasar satwa liar di Wuhan, China.  Aneka satwa liar dalam kondisi hidup bebas dijual di pasar ini.  Tersedia juga menu makanan satwa liar.  Tidak tega menyebut nama-nama satwa liar yang diperdagangkan di pasar Wuhan ini.

China memang terkenal sebagai pasar besar satwa liar. Di sini, konsumsi daging satwa liar sudah menjadi gaya hidup.  Orang dianggap keren kalau sudah mencicipi menu satwa liar. 

Studi yang dilakukan oleh Beijing Normal University (2014) menunjukan bahwa 83% warga Guangzhou pernah mengkonsumsi satwa liar, meskipun secara nasional 52% setuju bahwa satwa liar tidak semestinya di konsumsi.

Ada juga satwa liar yang digunakan untuk ramuan obat tradisional.  Pelat insang pari manta, misalnya, digunakan sebagai ramuan untuk mengatasi kesuburan. Demikian juga dengan tanduk kijang yang digunakan untuk obat demam anak. 

Pangsa pasar satwa liar sebenarnya bukan hanya China. Konsumen di pelbagai negara akan sangat bangga memamerkan tas yang berbahan kulit ular asli.  Atau mantel dari kulit macan tutul. Sementara gading gajah dan cula badak dijadikan aksesoris atau perhiasan.

Permintaan yang tinggi terhadap satwa liar mendorong terjadinya perburuan besar-besaran, terutama di negara-negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.  Di Indonesia, Ikan pari manta diburu hanya untuk diambil pelat insangnya.  Ikan hiu diburu untuk diambil siripnya. Begitu juga dengan gajah yang dibunuh untuk diambil gadingnya. Sungguh mengerikan!

Nilai perdagangan ilegal satwa liar dunia diperkirakan mencapai USD 20 miliar setiap tahunnnya.  Ini tentu angka yang menggiurkan. Daya Tarik bisnis ini membuat aparat penegak hukum dan penggiat lingkungan pontang-panting menghentikan perdagangan satwa liar. 

Seorang kawan yang pernah terlibat dalam kajian rantai pasok perdagangan satwa liar mengatakan bahwa modus operandi pedagang satwa liar layaknya mafia di film-film Holywood. 

Perdagangan satwa liar memang setara dengan perdagangan manusia, narkotika, dan senjata gelap.  Masuk kategori kejahatan transnasional terorganisir (transnational organized crime).

INTERPOL bekerjasama dengan Sekretariat CITES bahkan beberapa kali menggelar operasi pemberantasan perdagangan satwa liar ilegal yang melibatkan banyak negara, seperti Operasi INFRA-Terra (2014), Paws II (2015), Cobra (2015), Worthy II (2015), dan terakhir Thunderstorm (2018). Gelar operasi ini berhasil menangkap ratusan orang dan menyita berbagai satwa liar bernilai puluhan juta dollar.

CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) sendiri adalah perjanjian internasional yang mengatur perdagangan internasional satwa liar. Indonesia telah meratifikasi CITES melalui Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978 dimana Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai otoritas keilmuan, sementara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai otoritas pengelola. 

Beberapa hari lalu ada siaran pers dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mengabarkan bahwa KKP juga sudah ditunjuk sebagai otoritas pengelola.

Dampak Pandemi Covid-19

Satwa liar diketahui merupakan inang bagi berbagai jenis virus.  Hubungan antara keduanya ada yang bersifat mutualisme (saling menguntungkan) dan ada juga yang bersifat komensalisme (Virusnya untung, sementara satwa liar sebagai inang tidak dirugikan).  Namun ketika tubuh manusia menjadi inang, dalam banyak kasus, yang terjadi adalah hubungan parasitisme dimana virusnya beruntung dapat berkembang biak tapi tubuh manusia dirugikan. 

Perburuan satwa liar, ditambah kerusakan habitat yang semakin luas, menjadikan tubuh manusia sebagai inang baru bagi para virus. Ini yang menyebabkan munculnya berbagai penyakit.

Penyakit Covid-19 disebabkan oleh virus corona yang sebelumnya nyaman bersama kelelawar tapal kuda (horseshoe bats) yang ada di China sebagai inang.  Namun ketika kelelawar ini diburu dan dikonsumsi oleh manusia, serta habitatnya semakin terganggu, maka virus corona pindah ke lain hati. Mereka pindah dan menjadikan tubuh manusia sebagai inang.

Perpindahan inang virus dari satwa liar ke tubuh manusia bukan pertama kali ini terjadi. Menurut Jones dkk (2008), dalam kurun 1940-2004 terdapat 335 jenis virus baru yang menginfeksi manusia dimana 72% diantaranya berasal dari satwa liar.  Ini termasuk virus-virus yang menyebabkan terjadinya penyakit yang mematikan seperti SARS, MERS, Ebola, HIV/AID, dan lain-lain.

Pandemi Covid-19 diharapkan mengubah peta perdagangan satwa liar dunia.  saat ini permintaan terhadap satwa liar berkurang drastis.  Survei yang dilakukan baru-baru ini oleh Peking University terhadap 100.000 warga China menunjukan bahwa 97%  tidak mau lagi mengkonsumsi satwa liar.

Rendahnya permintaan pasar tentunya akan berdampak pada turunnya suplai.  Begitulah teori ekonominya.

Karena itu, inilah momentum yang tepat untuk memperbaiki habitat, menjaga populasi, dan menghentikan perburuan satwa liar. Dan pastinya menutup semua pasar satwa liar seperti di Wuhan itu!

Share and Enjoy !

0Shares
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *